5 Bahaya Kesehatan Akibat Makan Terlalu Cepat

9:21 PM 0

Perut yang keroncongan atau godaan makanan enak kerap membuat seseorang makan terlalu cepat. Mengunyah dengan kecepatan tinggi, atau bahkan langsung menelannya begitu saja. Meski terlihat biasa-biasa saja, ternyata makan dengan cara seperti ini bisa mengundang segudang bahaya kesehatan, lho!
Jika Anda memiliki kebiasaan ini, Anda patut waspada. Seperti dikutip dari The Guardian, ada 5 bahaya kesehatan akibat makan terlalu cepat:

1. Tersedak
Makanan yang dikunyah tidak sampai halus dapat meningkatkan risiko tersedak. Jika ini tidak segera diatasi, jalur napas bisa tertutup hingga akhirnya membuat Anda kehilangan napas sama sekali.

2. Sariawan
Mengunyah makanan dengan terburu-buru membuat lidah maupun bibir Anda berisiko ikut tergigit. Bila ini terjadi, sariawan tidak bisa lagi dihindari.

3. Berat badan meningkat
Hormon yang memberi isyarat kenyang membutuhkan waktu 15-20 menit untuk sampai ke otak. Oleh karena itu, makan terlalu cepat bisa membuat Anda mengonsumsi makanan dalam jumlah berlebihan. Tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Ya, berat badan melambung!

4. Gangguan pencernaan
Makan terlalu cepat bisa membuat perut begah atau mengalami sensasi terbakar. Kondisi ini dapat muncul karena tubuh belum siap mencerna makanan yang ditelan dengan terburu-buru.
5. Terkena sindrom metabolik       
Peneliti dari Universitas Hiroshima di Jepang menggunakan 642 pria dan 441 wanita sebagai subjek penelitian. Para subjek dibagi menjadi tiga kategori, yaitu mereka yang makan lambat, normal, dan cepat.
Periset menemukan, mereka yang makan terlalu cepat mengalami peningkatan risiko sindrom metabolik sebesar 11,6%. Sindrom ini merupakan cikal bakal penyakit diabetes, jantung, dan stroke.
Setelah mengetahui bahaya di atas, apakah Anda masih berpikiran untuk makan terlalu cepat? Semoga saja tidak!

Anda Sering Menunda Pekerjaan, Awas Tanda Gangguan Mental?

6:18 AM 0

Apa yang Anda lakukan saat tiba di kantor? Apakah langsung bekerja? Atau malah mengobrol dengan rekan kerja sambil mengecek media sosial pribadi lantaran malas? Rasa malas memang kerap muncul saat menghadapi pekerjaan yang menumpuk di depan mata. Namun bila sering menunda pekerjaan, Anda mungkin saja mengalami gangguan mental.
Hampir semua orang pasti pernah menunda mengerjakan sesuatu. Misalnya, menunda membereskan kamar dengan alasan malas dan ingin santai di hari libur. Pada kondisi tertentu, hal tersebut memang wajar dan tidak akan berdampak besar bagi hidup Anda.
Namun peneliti di Icahn School of Medicine at Mount Sinai, New York, menyebutkan bahwa terus-menerus menunda pekerjaan dapat berdampak secara signifikan terhadap hidup Anda. Kebiasaan tersebut dapat menurunkan kinerja Anda di tempat kerja maupun menurunkan prestasi anak di sekolah. Selain itu kebiasaan ini ternyata juga bisa memengaruhi hubungan dengan orang lain dan kualitas hidup seseorang. Bahkan jika berlangsung kronis, bisa jadi kebiasaan menunda pekerjaan disebabkan oleh gangguan mental.
Terdapat beberapa gangguan mental yang bisa menyebabkan seseorang gemar menunda pekerjaan. Salah satunya adalah depresi. Depresi dapat memberikan gejala perasaan putus asa dan tidak berenergi, sehingga malas untuk memulai atau menyelesaikan pekerjaan tertentu.
Ketika mengalami depresi, Anda cenderung malas melakukan kegiatan atau pekerjaan, bahkan aktivitas sederhana seperti mandi atau makan. Jika dibiarkan, maka depresi bisa berlangsung kronis dan dapat berujung pada bunuh diri.
Gangguan lain seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) juga dapat membuat seseorang gemar menunda pekerjaan. Orang yang mengalami ADHD biasanya cenderung impulsif, sulit fokus, pikirannya mudah teralihkan, sulit mengorganisir sesuatu, dan pekerjaan terbengkalai.
Seseorang dengan obsessive-compulsive disorder (OCD) juga sering menunda pekerjaan. Seorang dengan OCD biasanya akan melakukan aktivitas tertentu secara berulang-ulang, sehingga pekerjaan yang lain terbengkalai atau tertunda. Misalnya, mencuci tangan secara terus-menerus.
Jadi, jangan anggap sepele kebiasaan menunda pekerjaan. Jika memang memiliki kebiasaan buruk itu, Anda perlu mencari tahu penyebabnya. Sebab, kebiasaan tersebut dapat berakibat negatif pada hidup Anda.

Ini Dia Edukasi Seks Yang Tepat Untuk si Kecil

5:54 AM 0
Intip cara edukasi seks yang tepat sesuai tahapan usia si Kecil di sini.

Setiap orang tua pasti mengharapkan buah hatinya tumbuh menjadi pribadi yang sehat –baik secara biologis, psikologis, sosial, dan seksual. Oleh sebab itu, si Kecil perlu dibekali dengan informasi yang tepat terkait kesehatan seksual. Masalahnya, orang tua kerap kurang memahami bagaimana cara memberikan edukasi seks yang tepat sesuai tahapan usia si Kecil.
Sebagian orang tua bahkan enggan untuk memberikan edukasi seks karena berpikir edukasi seks selalu berkaitan dengan hubungan intim dan alat kelamin. Padahal, itu hanya bagian kecil dari rangkaian edukasi seks yang kompleks.
Edukasi seks sesungguhnya adalah pendidikan mengenai seksualitas, yang mencakup bagaimana seorang anak diajarkan untuk berpikir dan bersikap sesuai citra dirinya, mengetahui perannya sesuai jenis kelamin, bagaimana cara mengekspresikan diri dan keinginannya, serta mengetahui batasan-batasan pada dirinya dan orang lain.
Menurut pakar psikologi anak, edukasi seks perlu dilakukan sejak dini, yang berarti dimulai sejak usia prasekolah. Mengapa demikian? Pertama, anak-anak zaman sekarang cenderung lebih menguasai teknologi dibanding orangtuanya.
Semakin mudahnya akses terhadap internet membuat si Kecil dapat mencari dan memperoleh informasi tanpa batas di luar pengawasan orang tua. Tentunya ini berbahaya karena tidak semua informasi yang ditemukan adalah benar dan sesuai untuk usia si Kecil. Kedua, anak-anak dan terutama remaja perlu diberikan pertahanan dari berbagai bentuk pornografi, pelecehan, dan kekerasan seksual. Terakhir, edukasi seks perlu diberikan agar mereka terhindar dari infeksi menular seksual seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan HPV (Human Papillomavirus) serta kehamilan yang tidak diinginkan.
Lantas, bagaimana caranya? Pada prinsipnya,edukasi seks perlu disampaikan dalam bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta sesuai dengan tahapan usia anak.

Tahapannya

Usia 0–2 tahun
Ketika mulai memberikan nama terhadap bagian-bagian tubuh si Kecil, termasuk kelamin, sesungguhnya Bunda telah memberikan edukasi seks. Ajarkan si Kecil untuk mengenal istilah yang benar terkait alat kelaminnya –seperti penis, vagina, uretra (lubang kencing), dan anus.
Sebisa mungkin hindari penggunaan istilah awam seperti ‘burung’, ‘titit’, dan sebagainya. Ajarkan pula bahwa menyebutkan alat kelamin adalah hal yang wajar dan bukan hal yang tabu.
Pada usia ini, si Kecil diharapkan mampu mengenali perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta mampu mengenali jenis kelamin orang-orang yang dijumpainya.
Usia 2–5 tahun
Pada usia ini, si Kecil dapat diajar tentang sentuhan yang baik dan tidak baik serta siapa saja yang boleh menyentuh dirinya—orang tua, kakek dan nenek, keluarga terdekat. Tekankan bahwa tubuhnya tidak boleh disentuh oleh sembarang orang.
Tekankan pula bahwa area dada, perut, penis atau vagina, serta bokongnya adalah area pribadi yang berada di bawah kendali dirinya dan tidak boleh disentuh orang lain.
Ajari si Kecil untuk berani minta tolong atau lapor bila ada orang yang menyentuh bagian-bagian tubuh tersebut atau merasa tidak nyaman dengan cara orang lain menyentuh mereka.
Usia 5–8 tahun
Di usia ini si Kecil mulai bertanya, “Dari mana saya berasal?” Jawablah dengan jujur dan jelaskan secara sederhana terkait fungsi reproduksi. Katakan bahwa laki-laki memiliki sperma dan perempuan memiliki telur. Sperma yang bertemu telur akan menjadi bayi yang tumbuh di dalam perut perempuan dan kemudian lahir melalui vagina.
Anak-anak yang sudah masuk sekolah dasar biasanya sudah pernah mendengar kata ‘seks’. Daripada si Kecil mencari sendiri apa arti kata tersebut, sebaiknya Anda jelaskan bahwa ‘seks’ adalah peristiwa masuknya penis ke dalam vagina.Tekankan pula bahwa hal itu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa yang sudah menikah.
Usia 9–12 tahun
Pada periode ini, si Kecil sudah memasuki masa pubertas. Karenanya, orang tua perlu menjelaskan perubahan-perubahan yang akan terjadi pada tubuh si Kecil.
Pada anak perempuan, jelaskan bahwa payudara akan membesar, rambut ketiak dan kelamin akan tumbuh, dan haid akan dimulai. Pada anak laki-laki, jelaskan mengenai mimpi basah dan penis yang akan mengeluarkan air mani. Yakinkan bahwa ia tak perlu kaget jika menemukan pakaian dalam yang basah saat bangun tidur.
Pada rentang usia ini, sebagian anak mulai tertarik pada lawan jenisnya. Oleh sebab itu, si Kecil perlu diajar untuk memiliki hubungan pertemanan yang sehat. Jelaskan padanya hal-hal positif yang dapat dilakukan dengan lawan jenisnya dan hal-hal apa yang harus dihindari.
Tekankan pula bahwa bila ada hal tentang seks yang ingin diketahuinya, orang tua adalah sumber yang paling dapat dipercaya.
Usia 13–18 tahun
Pada tahap ini, kebanyakan anak cenderung tertutup pada orang tua. Mereka enggan bertanya atau bercerita pada orang tua dan lebih memilih untuk mencari informasi secara mandiri atau bertanya dengan teman sebayanya.
Jika edukasi seks dimulai sejak dini, akan lebih mudah bagi Anda untuk melanjutkan diskusi seputar seksualitas dengan anak yang memasuki masa remaja. Si Kecil perlu merasa nyaman dan percaya bahwa Ayah dan Bunda sebagai orang tua dapat memberikan informasi tanpa berprasangka buruk atau menghakimi.
Bunda pun perlu terlibat aktif dalam kegiatan si Kecil dan berperan sebagai mitra atau sahabatnya. Bunda dapat memulai dengan ikut serta dalam hal-hal yang menjadi hobinya atau yang disukainya, misalnya menonton konser musik bersama atau memberikan dukungan saat anak mengikuti kompetisi olahraga.
Hal ini penting agar si Kecil merasa nyaman untuk bercerita hal seputar seks dengan Bunda.
Anak dan remaja diharapkan mampu menjadi pribadi dewasa dengan kehidupan seksual yang sehat dan bertanggungjawab. Karenanya, Ayah dan Bunda sebagai orang tua harus bisa menjadi guru utama si Kecil dalam hal edukasi seks. Jangan malu atau enggan, karena pilihan Bunda akan menentukan masa depannya kelak.

Kuku Mudah Patah, Terus Apa yang Salah?

4:57 AM 0



Lewat kuku, Anda bisa mengetahui tentang apa yang sedang terjadi pada tubuh. Karena itu, sebaiknya Anda tidak menganggap sepele kejadian kuku mudah patah.
Berikut adalah kondisi yang menjadi cikal bakal kuku mudah patah:

1. Kekurangan vitamin dan mineral
Menurut dr. Christa M. Tomc dari Westlake Dermatology, kuku yang mudah patah, lemah, dan rapuh bisa menjadi pertanda bahwa tubuh Anda kekurangan zat besi, vitamin B, C, D, atau E. Untuk mengatasi ini, Tomc menyarankan Anda untuk mengonsumsi makanan yang kaya vitamin dan mineral setiap hari.

2. Kekurangan protein
Kurangnya asupan protein dalam tubuh, menurut dr. Christa M. Tomc, juga bisa menyebabkan kuku mudah patah. Ini karena protein berperan dalam menjaga kesehatan kuku Anda.
Untuk mencegah kondisi tersebut, Anda dianjurkan untuk mengonsumsi banyak ikan, ayam, daging sapi tanpa lemak, unggas, telur, kacang-kacangan, dan susu rendah lemak.

3. Dehidrasi
Selain menyebabkan kliyengan, dehidrasi juga merupakan faktor utama penyebab kuku mudah patah. Untuk mencegah hal ini, Anda disarankan untuk minum air sebanyak 8-9 gelas setiap hari.

4. Kurang pelembap
Kuku tidak hanya membutuhkan kelembapan dari dalam, tetapi juga dari luar. Jadi, agar kuku Anda tidak mudah patah, oleskanlah pelembap secukupnya di permukaan tangan termasuk tepi kuku, terutama seusai mencuci tangan.

5. Terlalu banyak terpapar air
Menurut CND Education Ambassador, Kristina Saindon, jika tangan Anda sering bersentuhan dengan air, kuku akan menjadi lebih mudah patah.

6. Terlalu lama menggunakan cat kuku
Cat kuku yang digunakan lebih dari 5 hari dapat menghambat laju ‘pernapasan’ kuku. Pada akhirnya kondisi ini akan menyebabkan kuku mudah patah, rapuh atau bahkan rusak.
Sebenarnya, penyebab kuku mudah patah tidak terbatas pada 6 kondisi di atas saja. Maka dari itu, jika Anda kerap mengalami kuku mudah patah, berubah warna atau bentuk, sebaiknya segera kunjungi dokter.
Tahukan Anda Bahwa Ternyata Kurang Serat Bisa Mendatangkan Penyakit

Tahukan Anda Bahwa Ternyata Kurang Serat Bisa Mendatangkan Penyakit

3:56 AM 0
hati-hati, kurang serat bisa mendatangkan penyakit - alodokter

Memastikan tubuh menerima asupan serat yang cukup lewat konsumsi makanan berserat ataupun suplemen serat sangat penting. Sebab, seseorang yang kurang serat cenderung memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah sehingga menjadi mudah sakit.
Sekitar 70% sel yang membentuk sistem kekebalan tubuh berada di saluran pencernaan. Agar sistem kekebalan tubuh dan sistem pencernaan dapat bekerja dengan baik, pastikan bahwa kebutuhan serat terpenuhi dengan baik.  

Risiko Penyakit Saat Kurang Serat

Meski terdengar sepele, serat rupanya memiliki peran yang cukup penting terkait kesehatan. Tidak hanya berdampak terhadap sistem kekebalan tubuh saja, kurang asupan serat juga dapat menyebabkan beberapa jenis keluhan dan penyakit seperti :
  • Sembelit
Gejala sembelit ditandai dengan tinja keras, kering, dan sulit buang air besar. Jika Anda mengalami hal ini dan kurang dari tiga kali buang air besar dalam kurun waktu seminggu, Anda kemungkinan mengalami sembelit. Konsumsi makanan tinggi serat, disertai olahraga dan minum air putih yang cukup, agar buang air besar kembali lancar.
  • Gula darah tidak stabil
Kebutuhan serat yang tidak terpenuhi dengan baik mungkin menyebabkan penderita diabetes sulit untuk mengendalikan gula darah. Namun, penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter sebelum mengganti jenis makanan atau pola makan.
  • Kenaikan berat badan
Serat akan membantu memenuhi rasa kenyang. Kurang serat pada makanan yang dikonsumsi dapat membuat seseorang makan melebihi yang dibutuhkan tubuh.
  • Mudah lelah
Konsumsi makanan yang tinggi protein tanpa diimbangi dengan konsumsi serat yang cukup, dapat membuat Anda merasa lelah dan mual.
  • Peningkatan kadar kolesterol
Serat dapat mengurangi penyerapan kolesterol berlebih dalam usus, sehingga tubuh kemudian membuangnya. Kekurangan serat kemungkinan akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
  • Penyakit jantung
Sejumlah penelitian mengungkap, seseorang yang mengonsumsi makanan yang kaya akan serat cenderung memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit jantung koroner.
  • Komplikasi jangka panjang pada diabetes
Bagi penderita diabetes, konsumsi makanan yang kaya akan kandungan serat tidak hanya mampu mengendalikan kadar gula darah, tetapi juga dapat mencegah komplikasi diabetes dalam jangka panjang. Pada seseorang yang tidak menderita diabetes, mengonsumsi makanan yang tinggi serat bisa mencegah terkena penyakit ini.

Kadar Serat yang Dibutuhkan Setiap Hari

Terdapat perbedaan kebutuhan serat antar wanita dan pria. Pada pria, setidaknya kebutuhan serat yang harus dipenuhi berkisar antara 30-38 gram sehari. Sedangkan wanita yang usianya berkisar antara 18 – 50 tahun, kebutuhan serat per hari yaitu sekitar 25 gram. Sayangnya, kebutuhan serat ini kerap kali tak terpenuhi dengan baik. Konsumsi serat rata-rata hanya sekitar 15 gram serat setiap harinya.
Nah, agar kebutuhan serat dapat terpenuhi, Anda disarankan untuk mengonsumsi makanan yang tinggi serat. Seperti aneka jenis kacang-kacangan, kacang polong, tepung gandum utuh,sayuran berdaun hijau, wortel, labu, kentang, jagung, dan kacang panjang. Selain itu, konsumsi buah kaya serat seperti pir, stroberi, jeruk, mangga, pisang, dan apel.
Tambahkan serat dalam makanan sehari-hari secara bertahap, agar terhindar dari kembung atau diare. Anda dapat menambahkan serat dengan menambahkan kacang atau biji rami (flaxseed) pada sajian salad atau yoghurt. Ganti camilan Anda dengan polong-polongan atau sayur segar. Pilih buah yang dikonsumsi dengan bijinya untuk asupan serat ekstra.
Tidak hanya mengonsumsi makanan berserat saja, suplemen serat mungkin juga bisa menjadi pilihan. Suplemen serat dapat berupa ekstrak cair, kapsul, bubuk, ataupun tablet kunyah. Berbagai pilihan pengobatan herbal pun banyak ditawarkan untuk memberikan manfaat serat bagi tubuh. Namun, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter agar penggunaan suplemen atau obat herbal sesuai kebutuhan.

3 Mitos Tentang Pemanis Buatan yang Ternyata Hanya Hoax

4:01 AM 0

Jika Anda sedang berusaha mengendalikan gula darah, pemanis buatan mungkin adalah jawaban yang tepat untuk memaniskan makanan atau minuman Anda tanpa risiko. Namun terkadang ada beberapa hal yang mungkin membuat Anda ragu. Banyak mitos tentang pemanis buatan beredar di luar sana, sebagian memang ada yang benar, namun sebagian lagi tidak terbukti secara ilmiah.

Apa saja anggapan tentang pemanis buatan yang harus dihilangkan dari benak Anda?

Sejak awal kehadirannya, pemanis buatan telah menuai kekhawatiran berbagai pihak. Efek toksik yang mungkin ditimbulkannya kerap dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan. Kanker, stroke, bayi lahir dengan berat badan rendah, tekanan darah tinggi, muntah, pusing, dan kejang adalah sederet kondisi kesehatan yang dikaitkan dengan penggunaan pemanis buatan.
Lantas, mitos pemanis buatan mana yang benar-benar fakta dan mana yang hanya menjadi mitos? Anda bisa cek di bawah ini.

1. Mitos: pemanis buatan sebabkan kanker

Anda mungkin pernah membaca artikel bahwa pemanis buatan bisa menyebabkan kanker. Pemanis buatan yang sering disebut memiliki efek karsinogenik atau senyawa kimia penyebab kanker adalah aspartam.
Faktanya, keamanan penggunaan aspartam telah diteliti dan diakui oleh banyak organisasi nasional dan internasional, termasuk FAO/WHO Commitee of Experts on Food Additives (JEFCA) dan disetujui oleh badan parlemen Eropa untuk digunakan sebagai pemanis buatan di bahan makanan pada 30 Juni 1994.
Bahkan, di Prancis telah disetujui sejak 1988. Nilai ambang batas/acceptable daily intake (ADI) yang telah disetujui oleh JEFCA adalah 40 mg/kgBB/hari yang apabila dikonversikan sebanyak 18-19 kaleng diet cola pada individu yang mempunyai berat badan 68 kg.
Memang, penggunaan aspartam yang masih menjadi kontroversi  tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi terjadi juga di Amerika dan sejumlah negara lainnya. Akan tetapi, sejauh ini FDA dan beberapa organisasi kesehatan lainnya masih menyatakan aman untuk dikonsumsi berdasarkan banyaknya penelitian yang dilakukan di berbagai belahan dunia dari masa ke masa.
Jadi, Anda tidak boleh lagi percaya mitos pemanis buatan menyebabkan kanker, Anda hanya perlu mengonsumsinya secara wajar dalam batas aman dan tidak berlebihan.

2. Mitos: Pemanis buatan menyebabkan gula darah naik

Mitos. Mitos pemanis buatan yang satu ini sering kali membuat takut diabetesi. Sebuah penelitian yang dilakukan di Israel menemukan bahwa pemanis buatan dapat mengubah komposisi normal dari bakteri baik di dalam usus seseorang. Hal ini tampaknya juga mempengaruhi bagaimana tubuh mengendalikan gula di dalam makanan yang Anda konsumsi, yang membuat kadar gula darah meningkat.
Gangguan ini menyebabkan terjadinya gangguan toleransi glukosa, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya diabetes. Faktanya, jumlah pemanis buatan yang diberikan pada para peserta penelitian ini lebih banyak daripada yang biasa dikonsumsi oleh seseorang setiap harinya, walaupun masih dalam batas yang direkomendasikan setiap harinya.
Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai benar tidaknya hasil penelitian tersebut. Seperti yang dilansir Mayo Clinic, salah satu keunggulan pemanis buatan dibandingkan dengan gula adalah tidak menimbulkan kenaikan kadar gula darah. Berbeda dengan gula, pemanis buatan bukanlah karbohidrat. Karena keunggulan inilah pemanis buatan sering direkomendasikan bagi seseorang yang memiliki diabetes.
Meski sering dijadikan rujukan, pemakaian pengganti gula tetaplah tidak bisa sembarangan. Para diabetesi yang hendak mengganti asupan gula dengan pemanis buatan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau ahli gizi.

3. Mitos: Pemanis buatan hanya berasal dari bahan kimia

Mitos. Tahukah Anda bahwa meskipun pemanis buatan adalah pengganti gula sintetis, namun bisa saja ia berasal dari bahan alami? Bahan alami yang bisa dijadikan bahan pengganti gula bisa berasal dari tumbuhan atau bahkan gula itu sendiri.
Jika selama ini Anda hanya tahu aspartam, sukralosa, atau sakarin, ada pemanis buatan atau pengganti gula yang berasal dari tumbuhan yaitu stevia. Stevia merupakan pemanis dan pengganti gula yang diekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana.
Stevia terasa manis berkat kandungan steviol glycosides yang ada di dalamnya. Senyawa tersebut membuat stevia terasa 250-300 kali lebih manis dari sukrosa atau gula biasa.
Satu penelitian menunjukkan bahwa selain tidak mengandung karbohidrat dan kalori, stevia juga tidak akan memengaruhi gula darah atau respons insulin. Dengan mengonsumsi stevia, para diabetesi pun diduga bisa mengonsumsi lebih banyak jenis makanan dan memenuhi rencana makan sehat.
Penelitian lain melaporkan jika stevia sangat sedikit, bahkan tidak memberikan efek apa pun terhadap kadar insulin, glukosa darah,hipertensi, dan berat badan. Kadar gula darah setelah makan pada diabetesi pun dilaporkan berkurang ketika mengonsumsi stevia.

Tips Ampuh Cegah Diabetes Jika Anda Doyan Makanan Manis

2:34 PM 0

Makanan manis, seperti dessert merupakan jenis makanan yang sangat sulit untuk ditolak. Bentuknya yang unik dan menggoda membuat banyak orang ketagihan dengan makanan satu ini. Tapi hati-hati, jika Anda tidak bisa mengontrol asupan makanan manis dengan baik, Anda bisa saja terkena diabetes sejak dini.
Ingat, diabetes merupakan salah satu penyakit serius yang dapat menyebabkan komplikasi kesehatan. Bahkan kematian. Itu sebabnya penting untuk mengetahui cara mencegah diabetes dengan tepat.

Tips mudah mencegah diabetes jika Anda suka makanan manis

Langkah-langkah berikut ini bisa jadi salah satu cara ampuh untuk mencegah diabetes bagi Anda yang suka dengan makanan manis.

1. Hindari segala hal yang bisa memicu Anda mengonsumsi makanan manis

Kebanyakan orang cenderung lebih sering mengonsumsi makanan manis saat dirinya sedang stress atau suasana hatinya sedang terganggu. Dengan asumsi, makanan yang manis akan meredakan stres dan memperbaiki suasana hati mereka. Padahal, tanpa Anda sadari konsumsi makanan manis di saat-saat seperti itu akan membuat Anda mengonsumsi makanan manis lebih banyak, loh.
Itu sebabnya, salah satu cara mudah untuk mencegah diabetes bagi Anda yang suka makanan manis adalah dengan menghindari segala hal yang menyebabkan stres. Pilihlah aktivitas yang cenderung mengalihkan perhatian Anda sejenak seperti membaca buku, menonton film, atau sekedar berbicara dengan teman serta keluarga. Dengan mengalihkan perhatian Anda dan mencoba untuk tidak memikirkan makanan yang didambakan, keinginan mengonsumsi makanan manis nantinya secara perlahan akan hilang dan teralihkan.

2. Simpan makanan manis di tempat yang sulit dijangkau

Brian Wansink, PhD seorang penulis Mindless Eating dan direktur Laboratorium Makanan dan Merek Cornell University di Ithaca, mengatakan jika orang yang doyan ngemil (terutama makanan manis) memang cenderung makan di luar kebiasaan mereka. Bukan karena kelaparan tapi umumnya karena “iseng”. Kebanyakan mereka akan memilih makanan apapun yang paling mudah untuk dimakan tanpa menunggu waktu yang lama.
Itu sebabnya, mulai sekarang, simpan segala macam camilan tidak sehat yang mengandung gula tinggi ke dalam sebuah kotak. Lalu kunci rapat kotak tersebut dan taruh di tempat yang sulit diakses Anda. Setelah itu, tempatkan makanan sehat seperti buah, sayuran, dan biji-bijian di posisi yang paling mudah diakses. Misalnya, kulkas dan ruang TV dan meja makan.
Anda juga bisa mengurangi hasrat ngemil makanan manis dengan cara mengunyah permen karet atau permen mint agar Anda bisa menahan godaan untuk tidak makan camilan. Tentunya, permen karet yang bebas gula, ya!

3. Jangan lewatkan makan

Melewatkan makan atau menunggu sampai Anda benar-benar lapar justru akan membuat gula darah Anda turun drastis, yang menyebabkan Anda akan semakin mendambakan makanan atau minuman manis yang lebih banyak. Makanlah dalam porsi yang sedikit tapi sering setiap tiga sampai lima jam sekali.
Jangan lupa, perhatikan asupan nutrisi dari makanan yang Anda konsumsi sehari-hari. Buat menu makanan lengkap yang menggabungkan karbohidrat, serat, protein, dan lemak sehat. Asupan makanan yang seimbang akan mempertahankan gula darah dan mencegah keinginan Anda untuk mengonsumsi makanan manis-manis secara berlebihan.

4. Waspadai gula tersembunyi

Mungkin Anda berpikir jika gula paling banyak hanya ada di dalam dessert saja. Padahal, tidak demikian. Yogurt yang tidak berlabel “plain”, saus tomat, kecap, salad dressing, jus buah kemasan, buah kaleng, buah kering, roti tawar, merupakan beberapa jenis makanan yang nyatanya mengandung gula tinggi.
Itu sebabnya, penting untuk membaca nilai gizi yang tertera pada kemasan makanan atau minuman yang akan Anda beli. Lihatlah seberapa banyak gula yang terkandung di dalamnya. Terkadang gula di dalam kemasan tidak dituliskan sebagai “gula”. Beberapa nama lain gula yang sering terkandung dalam makanan atau minuman seperti sukrosa, sirup jagung, madu, fruktosa, dekstrosa, maltosa, raw sugar, dan lain sebagainya.

5. Memperbanyak aktivitas fisik

Mengonsumsi makanan manis yang tinggi gula bisa membuat mekanisme otak Anda menghasilkan hormon endorfin secara instan. Endorfin adalah senyawa kimiawi yang bisa membuat Anda senang dan rileks. Sensasi inilah yang membuat tubuh Anda jadi kecanduan dengan apapun yang berbau manis.
Nah, salah satu cara terbaik untuk mengatasi kebiasaan buruk ini adalah dengan melakukan aktivitas fisik. Dengan aktivitas fisik, tubuh juga akan melepaskan endorfin yang bisa mengalihkan perhatian Anda dari mengonsumsi makanan manis. Tidak hanya itu, aktivitas pun bisa membantu tubuh menyerap nutrisi makanan lebih baik. Aktivitas ringan seperti jalan kaki, lari, atau sekedar beres-beres rumah bisa membuat ngidam makanan manis menjadi terabaikan.