Ini Dia Edukasi Seks Yang Tepat Untuk si Kecil

5:54 AM
Intip cara edukasi seks yang tepat sesuai tahapan usia si Kecil di sini.

Setiap orang tua pasti mengharapkan buah hatinya tumbuh menjadi pribadi yang sehat –baik secara biologis, psikologis, sosial, dan seksual. Oleh sebab itu, si Kecil perlu dibekali dengan informasi yang tepat terkait kesehatan seksual. Masalahnya, orang tua kerap kurang memahami bagaimana cara memberikan edukasi seks yang tepat sesuai tahapan usia si Kecil.
Sebagian orang tua bahkan enggan untuk memberikan edukasi seks karena berpikir edukasi seks selalu berkaitan dengan hubungan intim dan alat kelamin. Padahal, itu hanya bagian kecil dari rangkaian edukasi seks yang kompleks.
Edukasi seks sesungguhnya adalah pendidikan mengenai seksualitas, yang mencakup bagaimana seorang anak diajarkan untuk berpikir dan bersikap sesuai citra dirinya, mengetahui perannya sesuai jenis kelamin, bagaimana cara mengekspresikan diri dan keinginannya, serta mengetahui batasan-batasan pada dirinya dan orang lain.
Menurut pakar psikologi anak, edukasi seks perlu dilakukan sejak dini, yang berarti dimulai sejak usia prasekolah. Mengapa demikian? Pertama, anak-anak zaman sekarang cenderung lebih menguasai teknologi dibanding orangtuanya.
Semakin mudahnya akses terhadap internet membuat si Kecil dapat mencari dan memperoleh informasi tanpa batas di luar pengawasan orang tua. Tentunya ini berbahaya karena tidak semua informasi yang ditemukan adalah benar dan sesuai untuk usia si Kecil. Kedua, anak-anak dan terutama remaja perlu diberikan pertahanan dari berbagai bentuk pornografi, pelecehan, dan kekerasan seksual. Terakhir, edukasi seks perlu diberikan agar mereka terhindar dari infeksi menular seksual seperti HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan HPV (Human Papillomavirus) serta kehamilan yang tidak diinginkan.
Lantas, bagaimana caranya? Pada prinsipnya,edukasi seks perlu disampaikan dalam bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta sesuai dengan tahapan usia anak.

Tahapannya

Usia 0–2 tahun
Ketika mulai memberikan nama terhadap bagian-bagian tubuh si Kecil, termasuk kelamin, sesungguhnya Bunda telah memberikan edukasi seks. Ajarkan si Kecil untuk mengenal istilah yang benar terkait alat kelaminnya –seperti penis, vagina, uretra (lubang kencing), dan anus.
Sebisa mungkin hindari penggunaan istilah awam seperti ‘burung’, ‘titit’, dan sebagainya. Ajarkan pula bahwa menyebutkan alat kelamin adalah hal yang wajar dan bukan hal yang tabu.
Pada usia ini, si Kecil diharapkan mampu mengenali perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta mampu mengenali jenis kelamin orang-orang yang dijumpainya.
Usia 2–5 tahun
Pada usia ini, si Kecil dapat diajar tentang sentuhan yang baik dan tidak baik serta siapa saja yang boleh menyentuh dirinya—orang tua, kakek dan nenek, keluarga terdekat. Tekankan bahwa tubuhnya tidak boleh disentuh oleh sembarang orang.
Tekankan pula bahwa area dada, perut, penis atau vagina, serta bokongnya adalah area pribadi yang berada di bawah kendali dirinya dan tidak boleh disentuh orang lain.
Ajari si Kecil untuk berani minta tolong atau lapor bila ada orang yang menyentuh bagian-bagian tubuh tersebut atau merasa tidak nyaman dengan cara orang lain menyentuh mereka.
Usia 5–8 tahun
Di usia ini si Kecil mulai bertanya, “Dari mana saya berasal?” Jawablah dengan jujur dan jelaskan secara sederhana terkait fungsi reproduksi. Katakan bahwa laki-laki memiliki sperma dan perempuan memiliki telur. Sperma yang bertemu telur akan menjadi bayi yang tumbuh di dalam perut perempuan dan kemudian lahir melalui vagina.
Anak-anak yang sudah masuk sekolah dasar biasanya sudah pernah mendengar kata ‘seks’. Daripada si Kecil mencari sendiri apa arti kata tersebut, sebaiknya Anda jelaskan bahwa ‘seks’ adalah peristiwa masuknya penis ke dalam vagina.Tekankan pula bahwa hal itu hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa yang sudah menikah.
Usia 9–12 tahun
Pada periode ini, si Kecil sudah memasuki masa pubertas. Karenanya, orang tua perlu menjelaskan perubahan-perubahan yang akan terjadi pada tubuh si Kecil.
Pada anak perempuan, jelaskan bahwa payudara akan membesar, rambut ketiak dan kelamin akan tumbuh, dan haid akan dimulai. Pada anak laki-laki, jelaskan mengenai mimpi basah dan penis yang akan mengeluarkan air mani. Yakinkan bahwa ia tak perlu kaget jika menemukan pakaian dalam yang basah saat bangun tidur.
Pada rentang usia ini, sebagian anak mulai tertarik pada lawan jenisnya. Oleh sebab itu, si Kecil perlu diajar untuk memiliki hubungan pertemanan yang sehat. Jelaskan padanya hal-hal positif yang dapat dilakukan dengan lawan jenisnya dan hal-hal apa yang harus dihindari.
Tekankan pula bahwa bila ada hal tentang seks yang ingin diketahuinya, orang tua adalah sumber yang paling dapat dipercaya.
Usia 13–18 tahun
Pada tahap ini, kebanyakan anak cenderung tertutup pada orang tua. Mereka enggan bertanya atau bercerita pada orang tua dan lebih memilih untuk mencari informasi secara mandiri atau bertanya dengan teman sebayanya.
Jika edukasi seks dimulai sejak dini, akan lebih mudah bagi Anda untuk melanjutkan diskusi seputar seksualitas dengan anak yang memasuki masa remaja. Si Kecil perlu merasa nyaman dan percaya bahwa Ayah dan Bunda sebagai orang tua dapat memberikan informasi tanpa berprasangka buruk atau menghakimi.
Bunda pun perlu terlibat aktif dalam kegiatan si Kecil dan berperan sebagai mitra atau sahabatnya. Bunda dapat memulai dengan ikut serta dalam hal-hal yang menjadi hobinya atau yang disukainya, misalnya menonton konser musik bersama atau memberikan dukungan saat anak mengikuti kompetisi olahraga.
Hal ini penting agar si Kecil merasa nyaman untuk bercerita hal seputar seks dengan Bunda.
Anak dan remaja diharapkan mampu menjadi pribadi dewasa dengan kehidupan seksual yang sehat dan bertanggungjawab. Karenanya, Ayah dan Bunda sebagai orang tua harus bisa menjadi guru utama si Kecil dalam hal edukasi seks. Jangan malu atau enggan, karena pilihan Bunda akan menentukan masa depannya kelak.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »